“Jadi di pertemuan itu HP saya disita. Disita HP saya dengan alasan yang saya tidak tahu, padahal di HP saya, saya ingin memperlihatkan ibu bukti-bukti atau rilisan berita saya sebelum saya terbitkan,” katanya.
Menurut Zaenal, saat itu Bupati menangis dan meminta seluruh pemberitaan yang telah diterbitkannya dihapus.
“Tapi ibu Bupati hanya menangis di depan saya. Ibu Bupati meminta agar semua berita-berita yang telah saya terbitkan itu untuk dihapus,” ucapnya.
Ia mengaku menjelaskan bahwa penghapusan berita harus melalui administrator media.
“Tapi ibu Bupati menyampaikan lagi, masak media-media lain bisa dihapus, kamu tidak bisa,” lanjutnya.
Zaenal mengaku semakin tidak percaya setelah foto-foto pertemuan mereka beredar.
“Setelah saya pulang ke rumah, HP saya sudah saya kantongi, saya telepon orangnya ibu Bupati. Saya langsung sampaikan, saya tidak percaya kalian semua. Karena di pertemuan itu foto-foto saya beredar, lokasi pertemuannya,” katanya.

