GOWA, INTILIPUTAN – Kesaksian Zaenal dalam sidang Panitia Khusus (Pansus) Hak Angket DPRD Kabupaten Gowa, turut mengungkap adanya berbagai upaya pendekatan dan komunikasi yang menurutnya dilakukan sejumlah pihak setelah dirinya menerbitkan pemberitaan yang menjadi perhatian publik. Rabu (24/06/2026)

Di hadapan anggota Pansus, Zaenal menjelaskan bahwa setelah pemberitaannya terbit, berbagai pihak datang menemuinya dengan tujuan yang menurutnya sama, yakni meminta agar persoalan yang diberitakannya tidak terus berlanjut.

Zaenal mengawali keterangannya dengan menceritakan pertemuan langsungnya dengan Bupati Gowa di salah satu warung kopi di kawasan Pettarani. Dalam pertemuan tersebut, ia mengaku menyampaikan harapannya agar terjadi perubahan dalam tata kelola pemerintahan dan kepemimpinan daerah.

Menurut Zaenal, dalam pertemuan itu dirinya juga diajak untuk mendukung pemerintahan. Namun tawaran tersebut ditolaknya.

“Saya tidak akan pernah merapat ke ibu Bupati kalau di rujab belum steril. Dan media saya tidak akan pernah saya gabungkan di Pemda Kabupaten Gowa,” ujar Zaenal dalam keterangannya di hadapan Pansus.

Ia mengaku tetap mempertahankan independensi medianya dan menegaskan bahwa selama ini media yang dikelolanya tidak pernah menerima anggaran dari Pemerintah Kabupaten Gowa.

Zaenal menjelaskan bahwa beberapa waktu setelah pemberitaan yang diterbitkannya menjadi viral, ia menerima telepon dari seorang ketua LSM.

Dalam kesaksiannya, Zaenal mengutip langsung isi percakapan tersebut.

“Ketua LSM itu menelpon dan langsung mengatakan kepada saya, Ndi bicaramaki Ndi, jumlahnya berapa kita minta,” kata Zaenal.

Namun ia mengaku menolak pembicaraan tersebut dan kembali menyampaikan bahwa dirinya tidak memiliki kepentingan lain selain menginginkan adanya perubahan.

“Saya langsung mengatakan apa ini permintaan apa? Dia bilang yang viral. Saya bilang mohon maaf, ibu sudah tahu apa yang saya inginkan. Saya hanya inginkan ibu Bupati itu berubah,” tuturnya.

Menurut Zaenal, upaya pendekatan tidak berhenti sampai di situ. Setelah Lebaran, ia mengaku didatangi Ketua GRIB saat berada di kampung halamannya di Malakaji.

Ia menyebut kedatangan tersebut juga berkaitan dengan pemberitaan yang telah dipublikasikannya.

“Dia mengunjungi saya ke Malakaji untuk melobi saya, sama seperti sebelumnya melobi saya supaya berita saya diredam,” ungkapnya.

Meski demikian, Zaenal mengaku tetap menyampaikan pesan yang sama.

“Sampaikan saja ke ibu Bupati, kita tidak usah panjang lebar berbicara. Ibu Bupati sudah terima pesan saya dan dia sudah tahu apa yang saya inginkan. Saya hanya minta ibu Bupati berubah, tidak ada yang lain,” katanya.

Dalam kesaksiannya, Zaenal juga menyebut bahwa pada hari yang sama dirinya kembali didatangi sejumlah pihak lain.

“Sorenya lagi datanglah salah satu kepala seksi, kepala desa dan camat. Saya ketemunya itu di Tolo’,” ujar Zaenal.

Menurutnya, pembicaraan yang disampaikan para utusan tersebut tidak jauh berbeda dengan komunikasi yang sebelumnya telah diterimanya.

“Saya sampaikan jangan maki terlalu banyak bicara. Bupati Gowa saja saya tidak percaya apalagi kalian hanya utusan,” kata Zaenal menirukan responsnya saat itu.

Selain itu, ia juga mengaku beberapa kali bertemu dengan mantan Sekretaris Daerah Kabupaten Gowa, Kamsina.

“Saya beberapa kali ketemu di warkop termasuk di Black Canyon dan beberapa tempat lainnya,” ujarnya.

Zaenal mengutip salah satu pernyataan yang menurutnya disampaikan Kamsina.

“Nak, kita ini sudah lama kenal, bantua nak, barang kulle inja jari tau melalui kamu,” kata Zaenal menirukan ucapan tersebut.

Dalam forum Pansus, Zaenal juga menyampaikan bahwa dirinya pernah menerima telepon dari Muallim Bahar pada malam hari.

Menurutnya, Muallim Bahar menawarkan diri menjadi penghubung antara dirinya dengan Bupati Gowa.

“Itupun sama materinya. Dia malah meminta apakah dia bisa saya percaya untuk menjadi jembatan atau menjembatani ke Bupati Gowa,” ujar Zaenal.

Namun tawaran itu ditolaknya karena mengaku telah beberapa kali bertemu langsung dengan Bupati.

“Saya katakan buat apa kamu mau jadi jembatan, tidak perlu saya pakai jembatan untuk ketemu Bupati Gowa. Saya sudah pernah ketemu sudah dua kali,” katanya.

Zaenal juga menyebut adanya sejumlah pejabat yang menurut pengakuannya pernah menghubungi atau menemuinya setelah pemberitaan tersebut menjadi perhatian publik.

“Ada beberapa lagi kepala dinas yang saya ketemu di beberapa banyak tempat, ada yang di Takalar dan ada yang di mana,” ujarnya.

Dalam keterangannya di hadapan Pansus, Zaenal menyebut beberapa nama yang menurutnya pernah melakukan komunikasi dengannya, di antaranya pejabat PMI, Syamhali Rasyid, Mahmudin, Camat Pallangga, hingga Kepala Desa Taring.

“Setelah saya beritakan ini, banyak pejabat-pejabat yang sering memanggil dan menelpon saya dan anggap saya saudara. Bahkan kepala dinas yang tidak saya akrab sama sekali,” ungkapnya.

Zaenal menegaskan bahwa seluruh komunikasi tersebut tidak mengubah sikapnya. Ia mengaku tetap menyampaikan pesan yang sama kepada setiap pihak yang datang menemuinya, yakni menginginkan adanya perubahan dalam kepemimpinan dan pemerintahan Kabupaten Gowa.

Kesaksian Zaenal mengenai dugaan adanya berbagai upaya pendekatan tersebut menjadi salah satu bagian yang turut dicatat anggota Pansus Hak Angket DPRD Kabupaten Gowa dalam agenda pendalaman keterangan saksi.