Selain itu, sekitar 72 juta pekerjaan yang telah ada diproyeksikan akan bertransformasi menjadi pekerjaan yang lebih berkelanjutan dan ramah lingkungan.

“Transformasi ini bukan hanya tentang menciptakan pekerjaan baru, tetapi juga memastikan jutaan pekerja memiliki keterampilan yang sesuai dengan kebutuhan ekonomi hijau di masa depan,” katanya.

Menurut Rachmat, penguatan kualitas sumber daya manusia menjadi faktor utama dalam mempercepat transformasi tersebut. Karena itu, pemerintah terus memperkuat pendidikan vokasi, peningkatan kompetensi tenaga kerja, serta mendorong inovasi di berbagai sektor.

Ia juga menekankan pentingnya kolaborasi internasional dalam menghadapi tantangan perubahan iklim. Menurutnya, tidak ada satu negara pun yang mampu menjalankan transisi menuju ekonomi hijau tanpa dukungan dan kerja sama global.

“Kemitraan internasional menjadi fondasi penting dalam mempercepat transfer teknologi, investasi, serta peningkatan kapasitas sumber daya manusia. Indonesia terus membangun kerja sama yang saling menguntungkan untuk mendukung pembangunan rendah karbon,” ujarnya.

Salah satu bentuk kemitraan tersebut diwujudkan melalui kerja sama jangka panjang dengan Pemerintah Jerman, termasuk kolaborasi bersama GIZ dan Program Strategis GESIT yang saat ini tengah berjalan.