MAKASSAR, INTILIPUTAN – Keresahan masyarakat terhadap kondisi ekonomi yang dinilai semakin menekan kehidupan rakyat kecil kembali disuarakan di jalanan.
Sejumlah mahasiswa yang tergabung dalam Gerakan Aktivis Mahasiswa (GAM) menggelar aksi unjuk rasa di pertigaan Jalan Hertasning–Jalan AP Pettarani, Makassar, Kamis (11/6/2026).
Dalam aksi tersebut, massa membentangkan spanduk bertuliskan “Rezim Prabowo-Gibran Pengkhianat Rakyat” sebagai bentuk kritik terhadap berbagai kebijakan pemerintah yang dianggap belum mampu menjawab persoalan ekonomi yang dirasakan masyarakat.
Para peserta aksi membawa sejumlah tuntutan, di antaranya mendesak pemerintah segera menstabilkan nilai tukar rupiah, menolak kenaikan harga BBM jenis Pertamax, serta mencabut Undang-Undang Polri yang dinilai kontroversial.
Aksi berlangsung dengan membakar ban bekas di badan jalan, memblokade sebagian ruas jalan, serta menghentikan sebuah truk tronton yang kemudian digunakan sebagai mimbar untuk menyampaikan orasi.
Akibatnya, arus lalu lintas di sekitar lokasi sempat mengalami perlambatan.
Mahasiswa menilai kondisi ekonomi saat ini semakin membebani masyarakat, terutama kalangan menengah ke bawah yang harus menghadapi kenaikan berbagai kebutuhan pokok di tengah melemahnya daya beli.
Situasi tersebut diperparah dengan nilai tukar rupiah yang terus menjadi perhatian publik serta wacana kenaikan harga BBM non-subsidi yang dikhawatirkan akan berdampak pada kenaikan harga barang dan jasa.
Menurut mereka, rakyat kecil menjadi kelompok yang paling merasakan dampak dari berbagai kebijakan ekonomi.
Mulai dari pedagang kecil, buruh harian, petani hingga masyarakat berpenghasilan rendah harus berjuang menghadapi biaya hidup yang terus meningkat.
Jenderal Lapangan GAM, Tegu, mengatakan pemerintah perlu segera mengambil langkah nyata untuk menjawab keresahan yang berkembang di tengah masyarakat.
“Langkah cepat dan tepat dari pemerintah diperlukan untuk menjawab keresahan publik dan memastikan setiap kebijakan negara tetap berpijak pada kepentingan rakyat,” ujarnya dalam orasi.
Tegu menegaskan bahwa stabilitas ekonomi harus menjadi prioritas pemerintah, mengingat dampaknya langsung dirasakan oleh masyarakat luas.
Ia menilai pemerintah tidak boleh membiarkan ketidakpastian ekonomi terus berlangsung tanpa solusi yang jelas.
Sementara itu, Panglima Besar GAM, Fajar Wasis, menilai berbagai persoalan yang muncul saat ini menunjukkan perlunya evaluasi menyeluruh terhadap arah kebijakan pemerintah.
“Kami menilai rezim Prabowo-Gibran telah mengkhianati mandat rakyat karena gagal menghadirkan kebijakan yang menjamin kesejahteraan masyarakat. Oleh karena itu, kami menyerukan evaluasi total terhadap berbagai kebijakan yang dinilai merugikan rakyat,” tegasnya.
Menurut GAM, pemerintah harus lebih fokus pada upaya menjaga stabilitas harga, memperkuat nilai tukar rupiah, serta memastikan kebijakan ekonomi tidak semakin membebani masyarakat yang saat ini sedang menghadapi tekanan biaya hidup.
Aksi berlangsung di bawah pengawalan aparat kepolisian dan menjadi salah satu bentuk penyampaian aspirasi mahasiswa terhadap kondisi ekonomi nasional yang dinilai semakin menimbulkan keresahan di kalangan masyarakat kecil.

