GOWA, INTILIPUTAN – Sidang Panitia Khusus (Pansus) Hak Angket DPRD Kabupaten Gowa kembali memanas setelah Muhammad Yusran Beta alias Becam dan istrinya, Sahriani atau Bu Desa, memberikan kesaksian yang mengungkap secara rinci hubungan antara Bupati Gowa Husniah Talenrang dan Muhammad Basri alias Basri Kajang atau Ombas.
Di bawah sumpah, keduanya mengaku tidak lagi sanggup menyimpan apa yang selama ini mereka lihat dan alami selama mendampingi Ombas atas perintah langsung Bupati Gowa.
Bahkan, pengakuan paling mengejutkan muncul ketika Bu Desa mengungkap alasan awal suaminya mulai curiga terhadap hubungan Husniah dan Basri Kajang.
Dalam sidang, Bu Desa menceritakan sebuah peristiwa yang terjadi saat dirinya, Becam, Husniah Talenrang dan Basri Kajang berada di rumah jabatan.
Saat itu mereka berada dalam satu ruangan. Husniah dan Bu Desa tidur di atas tempat tidur, sementara Becam dan Basri Kajang berada di sofa dalam kamar.
Ketika Bu Desa tertidur, Becam ternyata masih terjaga.
Keesokan harinya, Becam mengaku kepada istrinya bahwa ia menyaksikan langsung momen yang membuatnya terkejut.
“Saya lihat ki BK cium ibu,” ungkap Bu Desa menirukan pengakuan suaminya di hadapan anggota Pansus.
Menurut Bu Desa, setelah melihat kejadian tersebut, Becam langsung ingin meninggalkan rumah jabatan karena merasa situasi yang dihadapinya sudah tidak wajar.
Namun dirinya berusaha menenangkan sang suami.
“Pokoknya mau pergi, mau pergi. Saya bilang jangan mi dulu,” tutur Bu Desa.
Pengakuan itulah yang disebut menjadi titik awal keyakinan pasangan suami istri tersebut bahwa hubungan Husniah Talenrang dan Basri Kajang bukan lagi sekadar hubungan profesional.
Becam juga mengaku dirinya berada di lingkungan rumah jabatan bukan karena jabatan resmi pemerintahan.
Ia menyebut secara langsung diperintahkan oleh Bupati Gowa untuk mendampingi Basri Kajang.
“Saya dipanggil ke rujab untuk menemani BK atau Ombas. Itu saya ditugaskan oleh Ibu Bupati Gowa,” kata Becam.
Bahkan tugas tersebut tidak hanya dilakukan di rumah jabatan, tetapi juga di rumah Talasa City yang disebut sebagai tempat tinggal pribadi yang kerap digunakan untuk berkumpul.
Menurut Becam, dirinya bersama sang istri harus melayani hampir seluruh kebutuhan Basri Kajang.
Mulai dari menyiapkan makanan, menemani hingga bermalam, bahkan memastikan Ombas tidak pergi meninggalkan Gowa.
“Ibu biasa bilang, jaga BK dengan baik-baik Becam. Nanti lari,” ungkapnya.
Ketika ditanya alasan Husniah begitu khawatir kehilangan Basri Kajang, Becam menjawab lugas.
“Menurut saya ada kasih sayang,” katanya.
Jawaban tersebut membuat suasana ruang sidang seketika riuh.
Kesaksian Bu Desa semakin memperjelas dugaan kedekatan tersebut.
Ia mengungkap perjalanan ke Bali yang diikuti enam orang, yakni Husniah Talenrang, Basri Kajang, Becam dan istrinya, serta Rahmi Palana (Oma) dan Hardianto Rahim (Opa).
Menurut Bu Desa, saat menginap di vila Bali, pembagian kamar dilakukan secara terpisah.
Pada malam pertama, Bu Desa dan Becam berada di kamar bawah. Opa dan Oma berada di kamar lain. Sementara Husniah berada di lantai atas bersama Basri Kajang.
“Saya di bawah bersama suami. Opa di bawah juga. Ibu di atas dengan Ombas,” tegas Bu Desa di hadapan anggota dewan.
Keterangan serupa juga disampaikan Becam.
Saat ditanya anggota DPRD terkait posisi kamar selama berada di Bali, ia menjawab singkat.
“Ibu dengan Ombas. Saya dengan istriku, Opa dengan Oma,” katanya.
Pengakuan tersebut menjadi perhatian anggota Pansus karena berbeda dengan keterangan awal beberapa saksi yang sebelumnya berusaha membantah keberadaan Basri Kajang bersama Bupati.
Dalam bagian lain sidang, anggota DPRD secara langsung bertanya kepada Opa dan Oma mengenai pandangan mereka terhadap hubungan Husniah dan Basri Kajang.
Pertanyaannya sederhana namun tegas.
Apakah hubungan yang mereka lihat selama ini merupakan sesuatu yang wajar mengingat Husniah masih memiliki suami sah?
Jawaban saksi pun membuat ruang sidang kembali hening.
“Tidak wajar,” jawab Opa.
Pernyataan itu menjadi salah satu pengakuan paling terbuka yang muncul selama persidangan berlangsung.
Bu Desa mengaku selama hampir 10 bulan memilih diam dan berusaha menutupi berbagai hal yang diketahuinya.
Ia bahkan mengaku sempat meyakinkan banyak pihak bahwa isu hubungan Husniah dan Basri Kajang hanyalah hoaks.
Namun setelah berbagai peristiwa yang dialaminya, termasuk putus komunikasi dengan lingkaran rumah jabatan dan penyitaan telepon genggam miliknya, ia memutuskan untuk menyampaikan seluruh yang diketahuinya di hadapan Pansus.
Dengan suara bergetar, Bu Desa menegaskan bahwa seluruh keterangannya diberikan tanpa tekanan siapa pun.
“Keputusan saya hari ini tidak ada tekanan dari siapa pun. Saya mau menyelamatkan diri saya dari fitnah dan menyampaikan yang sebenar-benarnya,” ucapnya.
Kesaksian Becam dan istrinya kini menjadi salah satu keterangan paling penting dalam rangkaian penyelidikan Pansus Hak Angket DPRD Gowa terkait dugaan perbuatan tercela dan pelanggaran etika yang menyeret nama Bupati Gowa Husniah Talenrang dan Basri Kajang.
Pansus dijadwalkan masih akan menghadirkan sejumlah saksi lain guna menguji dan mengonfirmasi berbagai pengakuan yang telah terungkap dalam persidangan terbuka tersebut.










