MAKASSAR, INTILIPUTAN.ID — Kelangkaan bahan bakar minyak atau BBM jenis Pertalite di sejumlah SPBU di Kota Makassar dan Kabupaten Gowa mulai memunculkan persoalan baru. Sabtu (12/09/2026)

Di tengah masyarakat yang harus rela mengantre panjang untuk mendapatkan BBM, muncul dugaan adanya praktik pelangsiran yang dilakukan secara berulang dari satu SPBU ke SPBU lainnya.

Berdasarkan hasil pengamatan di lapangan, kelompok yang diduga melakukan pelangsiran kini menggunakan sepeda motor standar.

Sebelumnya, aktivitas serupa disebut menggunakan sepeda motor jenis Thunder yang memiliki kapasitas tangki lebih besar.

Pola yang dilakukan diduga cukup terorganisir. Sepeda motor standar digunakan untuk membeli Pertalite di satu SPBU, kemudian berpindah ke SPBU lainnya untuk kembali melakukan pembelian.

Yang menjadi perhatian, setelah keluar dari SPBU, BBM yang berada di dalam tangki sepeda motor diduga dipindahkan ke dalam botol atau wadah tertentu.

Setelah tangki kembali kosong, sepeda motor tersebut diduga kembali digunakan untuk membeli BBM di SPBU lainnya.

Aktivitas ini disebut dilakukan berulang kali dan berpindah-pindah SPBU, sehingga sulit terdeteksi jika hanya mengandalkan pengawasan di satu lokasi.

Dugaan pelangsiran tersebut semakin menjadi perhatian setelah ditemukan penawaran BBM melalui Facebook Marketplace.

Dalam salah satu tangkapan layar yang diperoleh, terdapat penawaran bertuliskan “BENSIN PERTALITE” dengan harga Rp75 ribu.

Pada bagian keterangan, penjual menuliskan pertalite 5 liter harga Rp75.000.

Artinya, jika penawaran tersebut benar-benar merupakan Pertalite sebanyak lima liter, maka harga yang ditawarkan mencapai Rp15.000 per liter.

Sementara pada unggahan lainnya, terlihat sejumlah botol berisi cairan yang disebut sebagai bensin, dengan penawaran Rp25.000.

Temuan ini memperlihatkan adanya aktivitas jual beli BBM secara eceran melalui media sosial, di tengah masyarakat Makassar dan Gowa yang justru kesulitan mendapatkan Pertalite langsung dari SPBU.

Namun, belum dapat dipastikan apakah BBM yang ditawarkan melalui akun tersebut berasal dari aktivitas pelangsiran di SPBU.

Keterkaitan tersebut masih membutuhkan pembuktian melalui penelusuran aparat, termasuk asal BBM, lokasi pembelian, frekuensi transaksi, hingga siapa yang memasok BBM kepada penjual.

Fenomena ini menjadi ironi di tengah keluhan masyarakat yang harus menghabiskan waktu berjam-jam untuk mendapatkan Pertalite.

Jika dugaan pembelian berulang tersebut benar terjadi, BBM yang seharusnya dapat dinikmati masyarakat melalui distribusi resmi justru berpotensi berpindah ke jalur penjualan eceran dengan harga lebih tinggi.

Aparat penegak hukum di Makassar dan Gowa pun didesak tidak hanya melakukan pengawasan terhadap antrean SPBU, tetapi juga menelusuri rantai setelah BBM keluar dari SPBU.

Mulai dari kendaraan yang melakukan pembelian berulang, pola perpindahan antar-SPBU, hingga dugaan penjualan kembali melalui media sosial.

Pertamina juga perlu mengevaluasi sistem pengawasan transaksi di SPBU untuk mendeteksi pembelian yang dilakukan secara tidak wajar.

Sebab, persoalan kelangkaan BBM tidak cukup hanya dilihat dari ketersediaan stok.

Ketika masyarakat harus antre berjam-jam, sementara Pertalite justru ditemukan kembali dalam bentuk penjualan eceran di media sosial dengan harga lebih mahal, pertanyaan besarnya adalah: ke mana sebenarnya BBM bersubsidi tersebut mengalir setelah keluar dari SPBU?

Kini, publik menunggu langkah tegas aparat dan Pertamina untuk mengungkap dugaan permainan distribusi Pertalite di Makassar dan Gowa.