Syamsuddin mengaku kondisi psikologis putranya terus memburuk akibat ketidakjelasan nasib mereka di atas kapal.
Tekanan yang dialami para awak kapal disebut semakin berat karena tidak adanya kepastian kapan penyanderaan akan berakhir.
“Anak saya mengalami stres karena menunggu negosiasi dari perusahaan ataupun pemerintah. Mulai dari awal sampai sekarang sama sekali tidak ada yang masuk sehingga dia menjadi tekanan batin di atas kapal dan stres. Banyak yang sakit-sakit, makanan pun kurang,” ujarnya.
Kondisi tersebut diperparah dengan semakin menipisnya pasokan makanan dan air bersih di atas kapal. Informasi yang diterima keluarga menyebutkan para awak kapal mulai mengalami kesulitan memenuhi kebutuhan dasar sehari-hari.
“Anak saya menyampaikan bahwa pasokan air sudah berkurang, kemudian makanan juga sudah berkurang,” katanya.

