Selain Mendapat Tindakan Represif, Panglima GAM Ungkap Ada OTK Yang Rampas HP Anggotanya

Avatar of Muhammad
Panglima GAM Fajar Wasis memberikan keterangan terkait insiden OTK Yang Rampas HP Anggotanya berupa iPhone 11 Pro Max saat aksi unjuk rasa di Makodam Hasanuddin Makassar yang berujung ricuh dan represif pada 9 April 2026.
Panglima GAM mengecam tindakan sejumlah OTK Yang Rampas HP Anggotanya saat melakukan pengawalan kasus aktivis KontraS di sekitar Makodam Hasanuddin.

Intiliputan, Makassar – Panglima GAM, Fajar Wasis, melaporkan insiden dugaan pencurian dengan kekerasan oleh sejumlah OTK Yang Rampas HP Anggotanya saat menggelar unjuk rasa di kawasan Makodam XIV Hasanuddin. Kejadian ini mencoreng kebebasan berpendapat dan kini telah dilaporkan ke pihak berwajib.

Aksi unjuk rasa yang dilakukan oleh Gerakan Aktivis Mahasiswa (GAM) di kawasan Makodam Hasanuddin, Kamis (9/4/2026), berujung ricuh. Sejumlah massa aksi mengaku mendapat tindakan represif dari orang tak dikenal (OTK), termasuk perampasan alat dokumentasi milik peserta aksi.

Panglima GAM, Fajar Wasis, mengungkapkan bahwa insiden tersebut terjadi saat massa tengah menyampaikan aspirasi secara damai. Ia menyayangkan adanya tindakan yang dinilai mencederai kebebasan berpendapat.

“Kami sangat sesalkan tindakan represif yang dilakukan oleh orang tak dikenal di kawasan Makodam Hasanuddin. Bahkan sebelum tindakan itu, salah satu kader kami dirampas handphone yang digunakan untuk mendokumentasikan aksi,” ujar Fajar. Jum’at 10 April 2026.

Menurutnya, handphone yang dirampas tersebut merupakan iPhone 11 Pro Max yang diambil tanpa alasan dan tujuan yang jelas. Peristiwa itu disebut terjadi di tengah situasi aksi yang awalnya berlangsung tertib dan terorganisir.

Fajar menjelaskan, aksi tersebut bertujuan untuk mendorong Pangdam Hasanuddin memberikan jaminan agar kasus kekerasan, seperti penyiraman air keras terhadap Andrie Yunus, tidak terulang di wilayah Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, dan Sulawesi Barat.

“Yang kami harapkan adalah solusi dan jaminan keamanan, bukan tindakan represif. Kami ingin membangun citra TNI agar lebih baik, sekaligus memastikan aktivis mendapat perlindungan sesuai hak konstitusional,” jelasnya.

Ia menambahkan, aksi dimulai sekitar pukul 14.00 WITA dengan long march menuju Makodam Hasanuddin. Sekitar 30 menit setelah orasi berlangsung, sejumlah OTK yang mengenakan rompi, masker, dan topi tiba-tiba muncul dan mengerumuni massa aksi.

“Mereka langsung merampas handphone dokumentasi kami, kemudian menyeret beberapa massa ke pinggir jalan dan melakukan tindakan represif. Itu yang kami sesalkan,” katanya.

Selain itu, Fajar juga mengungkapkan bahwa pihaknya sempat memiliki rekaman video berdurasi singkat sekitar 4 detik. Tidak hanya itu proses dokumentasi yang dilakukan warga juga mendapat intimidasi oleh OTK.

“Video itu ada, tapi sangat singkat. Karena saat ada yang merekam, langsung didatangi OTK dan diminta menghentikan perekaman,” ungkapnya.

Atas kejadian tersebut, pihak GAM telah melaporkan dugaan perampasan dan tindakan represif itu ke Polrestabes Makassar. Mereka berharap aparat kepolisian dapat mengusut tuntas kasus ini.

“Kami berharap pihak kepolisian bertindak cepat, tegas, dan transparan untuk mengungkap kasus ini. Laporan ini adalah langkah awal kami,” tegas Fajar.

Ke depan, GAM berencana melakukan konsolidasi lanjutan dengan melibatkan lebih banyak elemen organisasi. Mereka juga memastikan akan kembali menggelar aksi dengan jumlah massa yang lebih besar.

“Perjuangan ini tidak akan berhenti di sini. Kami akan kembali dengan kekuatan yang lebih besar untuk menuntut keadilan,” tutupnya.