Warga Penyintas Kanker Tolak PLTSa di Tamalanrea: “Kami Ingin Hidup di Lingkungan yang Sehat dan Aman”

IMG 20260522 WA0001 jpg
Penolakan terhadap rencana pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) di Kelurahan Bira, Kecamatan Tamalanrea, Kota Makassar, kembali disuarakan warga bersama sejumlah organisasi lingkungan.

Intiliputan, Makassar — Penolakan terhadap rencana pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) di Kelurahan Bira, Kecamatan Tamalanrea, Kota Makassar, kembali disuarakan warga bersama sejumlah organisasi lingkungan dalam konferensi pers yang digelar secara daring, Kamis (21/5/2026).

Konferensi pers tersebut diinisiasi oleh WALHI Sulawesi Selatan bersama GERAM PLTSa, Nexus3 Foundation dan WALHI Nasional dengan mengangkat tema “Delusi Mengubah Sampah Menjadi Energi Listrik: Sebuah Transisi Darurat Sampah Menjadi Darurat Kesehatan.”

Salah satu suara penolakan paling menyentuh datang dari N, seorang ibu rumah tangga sekaligus penyintas kanker yang tinggal kurang dari 10 meter dari lokasi rencana pembangunan PLTSa.

Dengan nada lirih, N menceritakan perjuangannya menjalani kemoterapi sepanjang tahun 2024. Ia mengaku sempat mengalami kondisi fisik yang sangat menurun selama masa pengobatan.

“Kadang kondisi saya membaik, tapi ada juga saat-saat hanya untuk bangun dari tempat tidur saja terasa sangat berat. Waktu itu cairan di paru-paru juga membuat napas sering sesak dan badan cepat lelah,” ungkap N saat konferensi pers.

Di tengah proses pemulihan kesehatannya, rencana pembangunan PLTSa di dekat tempat tinggalnya justru menambah kecemasan baru bagi dirinya dan keluarga.

“Bagi sebagian orang ini mungkin hanya dianggap proyek pembangunan. Tapi bagi kami yang tinggal di sekitar lokasi, ini menyangkut ruang hidup, tempat beristirahat, dan tempat kami membesarkan keluarga,” katanya.

N mengaku pengalaman menghadapi penyakit membuat dirinya semakin memahami pentingnya kualitas lingkungan yang sehat, terutama udara bersih bagi masyarakat yang tinggal di kawasan padat penduduk.

“Setelah melewati kemoterapi, saya jadi lebih sadar bahwa lingkungan yang sehat itu sangat penting. Udara bersih dan rasa aman di rumah sendiri adalah hal yang sangat berharga,” ujarnya.

Ia juga menilai kekhawatiran warga sekitar bukan tanpa alasan, sebab masyarakat yang tinggal paling dekat dengan lokasi pembangunan akan menjadi pihak yang pertama merasakan dampaknya jika proyek tersebut tetap dijalankan.

“Kami bukan menolak tanpa alasan. Kami hanya ingin memastikan kesehatan keluarga dan anak-anak kami tetap terlindungi,” tegasnya.

Menurut N, warga sekitar tidak pernah meminta hal berlebihan kepada pemerintah selain hak untuk hidup dengan aman dan sehat di lingkungan mereka sendiri.

“Kami hanya ingin didengar. Karena nanti yang hidup berdampingan dengan dampaknya adalah kami, masyarakat yang tinggal di sini setiap hari,” katanya.

Di akhir penyampaiannya, N menegaskan dirinya bersama warga lainnya tetap menolak pembangunan PLTSa di wilayah Tamalanrea karena dinilai berpotensi mengancam kesehatan masyarakat dan lingkungan sekitar.

“Kami tetap pada pendirian untuk menolak proyek ini dibangun di lingkungan kami,” tutupnya.

Dalam konferensi pers tersebut, warga bersama organisasi masyarakat sipil menilai proyek PLTSa berpotensi menimbulkan dampak serius terhadap kesehatan dan lingkungan, khususnya bagi kelompok rentan yang bermukim di sekitar lokasi pembangunan.