Azhari kemudian memohon agar pemerintah Indonesia turun tangan secara langsung dan mengintervensi perusahaan pemilik kapal agar bertanggung jawab terhadap keselamatan para kru.
“Kami minta tolong kepada pemerintah untuk mengintervensi perusahaan kami agar mempertanggungjawabkan krunya di sini karena kami sangat kesulitan menjalani hidup keseharian di sini,” ujarnya.
Ia mengaku hingga saat ini para awak kapal belum melihat adanya proses yang memberikan harapan terhadap penyelesaian kasus penyanderaan tersebut.
“Sampai sekarang belum ada proses yang kami dapatkan. Hampir dua bulan kami di sini dan tidak ada bantuan apa pun dari perusahaan mengenai makanan maupun obat-obatan untuk kami,” katanya.
Sementara itu Syamsuddin, ayah Azhari Samadikun mengungkap jika kondisi putranya saat ini menjadi beban pikiran yang terus menghantuinya setiap hari. Ia mengaku tidak bisa tidur nyenyak sejak anaknya disandera.
“Saya sebagai orang tua tiap malam bangun pasti pikiran saya ke sana. Bahkan dari pagi sampai sore hari pikiran saya hanya bagaimana kondisi anak saya yang sudah tertekan keadaannya,” ujarnya.

