BANTAENG, INTILIPUTAN.ID — Tiga santriwati Takhassus Tahfidzul Qur’an Pondok Pesantren Putri Al-Furqan Bantaeng berhasil menuntaskan hafalan Al-Qur’an hingga 30 juz.

Capaian tersebut menjadi momen penting setelah melalui proses panjang, disiplin, dan ketekunan dalam menghafal serta menjaga hafalan.

Ketiga santriwati tersebut yakni Nur Fadilah Kadir, Nurul Aenul Anshar, dan Reski Aulia Putri.

Khataman 30 juz dilaksanakan pada Ahad, 16 Agustus 2026, di Rumah Karantina Takhassus Tahfidzul Qur’an, Lingkungan Asayya, Kelurahan Ereng-Ereng, Kecamatan Tompobulu, Kabupaten Bantaeng.

Khataman menjadi penanda keberhasilan ketiganya menyelesaikan target hafalan. Namun, bagi keluarga dan pihak pesantren, capaian tersebut bukanlah garis akhir.

Justru, setelah 30 juz berhasil dihafalkan, tantangan berikutnya adalah mempertahankan hafalan agar tetap melekat dan terus diamalkan.

Menghafal Al-Qur’an tidak hanya membutuhkan kemampuan mengingat ayat demi ayat. Proses tersebut juga menuntut kesabaran, kedisiplinan, ketekunan, serta konsistensi melakukan murajaah atau mengulang kembali hafalan.

Pimpinan Pondok Pesantren Putri Al-Furqan, KH. Ahmad Kurnia, S.Ag., mengingatkan para santriwati agar tidak merasa telah menyelesaikan seluruh tanggung jawab hanya karena berhasil menghafal 30 juz.

“Jangan pernah merasa selesai hanya karena sudah hafal 30 juz. Teruslah menjaga hafalan, menjaga salat, menjaga akhlak, dan menjaga hati,” pesannya.

Menurutnya, menjadi seorang hafizah tidak sekadar ditandai dengan kemampuan menghafal seluruh isi Al-Qur’an. Lebih jauh, hafalan tersebut diharapkan mampu menjadi pedoman dalam menjalani kehidupan sehari-hari.

“Karena menjadi hafizah bukan hanya tentang mampu menghafal Al-Qur’an, tetapi tentang bagaimana Al-Qur’an menjadi jalan hidup,” lanjutnya.

Pesan tersebut juga menjadi perhatian bagi Abdul Kadir, orang tua Nur Fadilah Kadir. Ia menyampaikan rasa syukur atas capaian putrinya sekaligus memberikan apresiasi kepada seluruh ustazah, pembina, dan keluarga besar Pondok Pesantren Putri Al-Furqan.

“Kami ingin menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada seluruh ustazah, pembina, dan keluarga besar Pondok Pesantren Putri Al-Furqan yang telah mendidik, membimbing, dan menjaga anak kami selama berada di pondok,” ujar Abdul Kadir.

Ia juga mengungkapkan rasa terima kasih atas ilmu dan bimbingan yang diterima putrinya selama menjalani pendidikan di pesantren.

“Terima kasih kepada Pondok Pesantren Putri Al-Furqan atas segala ilmu dan bimbingannya,” katanya.

Abdul Kadir berpesan agar para santriwati yang telah menyelesaikan hafalan 30 juz tidak berhenti berinteraksi dengan Al-Qur’an.

Menurutnya, membaca dan mengulang hafalan secara rutin menjadi bagian penting agar hafalan tetap terjaga.

“Pesan kepada anak-anak, jangan cuma menghafal. Terus membaca Al-Qur’an agar hafalan terus konsisten dan dapat diingat,” tuturnya.

Khataman 30 juz yang diraih Nur Fadilah Kadir, Nurul Aenul Anshar, dan Reski Aulia Putri pun menjadi kebahagiaan tersendiri bagi keluarga maupun lingkungan pesantren.

Namun, capaian tersebut sekaligus membawa tanggung jawab baru. Hafalan yang telah diselesaikan harus terus dijaga melalui murajaah dan pembacaan Al-Qur’an secara berkelanjutan.

Lebih dari sekadar mempertahankan hafalan, nilai-nilai yang terkandung dalam Al-Qur’an juga diharapkan tercermin dalam kehidupan para santriwati, baik melalui ibadah, sikap, maupun akhlak.

Dengan demikian, khataman 30 juz bukanlah akhir perjalanan bagi ketiga santriwati Al-Furqan.

Khataman justru menjadi awal dari perjalanan baru untuk menjaga hafalan, memperkuat kedekatan dengan Al-Qur’an, menjaga akhlak, dan menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman dalam kehidupan.