Intiliputan, Makassar – Proses penanganan sampah di Barombong Makassar, tepatnya di pinggir Jalan Bonto Biraeng, RW 06 Kaccia, akhirnya mulai dilakukan oleh pihak kelurahan setelah kondisi tumpukan sampah tersebut viral di media sosial. Langkah ini diambil guna mengatasi bau menyengat yang selama ini dikeluhkan oleh pengguna jalan dan warga sekitar.
Sebelumnya, permasalahan ini mencuat setelah akun Instagram @Kabar_Jalanan_Makassar mengunggah kondisi sampah yang menggunung dan tak terurus selama berminggu-minggu. Unggahan tersebut memicu kritik tajam dari warganet terhadap efektivitas pelayanan kebersihan di wilayah Kecamatan Tamalate.
Kendala Armada dan Retribusi Sekolah
Lurah Barombong, Eko Soerifto Lodi, menjelaskan bahwa keterlambatan penanganan sampah di Barombong Makassar ini disebabkan oleh keterbatasan armada pengangkut. Selain faktor teknis, ia juga mengungkapkan adanya masalah administrasi terkait iuran sampah dari institusi pendidikan di area tersebut.
”Sementara kami angkut karena sudah banyak sampah yang menumpuk. Pengangkutannya kami lakukan secara bertahap karena armada kami sangat terbatas,” ujar Eko saat meninjau lokasi.
Ia menambahkan, sebagian besar sampah yang menumpuk berasal dari aktivitas lingkungan sekitar, termasuk dari sebuah sekolah yang disebutnya belum memenuhi kewajiban pembayaran retribusi sampah selama ini.
Langkah Evaluasi dan Harapan Warga
Guna mempercepat proses pembersihan, pihak kelurahan telah menurunkan mobil operasional TANGKASAKI. Eko menegaskan bahwa kejadian ini menjadi bahan evaluasi agar pelayanan kebersihan ke depannya tidak lagi menunggu viral. Pihaknya juga berencana memanggil pihak sekolah terkait untuk menyelesaikan persoalan retribusi yang tertunda.
”Pihak sekolah memang belum melakukan pembayaran retribusi sampah. Namun dengan adanya permasalahan ini, kami akan segera berkoordinasi dan menyelesaikannya,” tambahnya.
Di sisi lain, warga berharap agar penanganan sampah di Barombong Makassar dilakukan secara konsisten dan terjadwal. Masyarakat menilai sinergi antara pembayaran iuran yang tertib dan ketersediaan armada yang mumpuni adalah kunci agar estetika serta kesehatan lingkungan tetap terjaga.

