Intiliputan, Sinjai – Sore yang mendung di Dusun Tonrong menjadi saksi bisu betapa beratnya perjuangan Ramlah demi bertahan hidup. Sabtu 5 april 2026.
Akibat pendarahan hebat pasca melahirkan dan akses jalan yang hancur, wanita berusia 22 tahun ini terpaksa ditandu warga menggunakan bambu dan sarung sejauh dua kilometer demi mendapatkan pertolongan medis.
Kronologi Perjuangan Ramlah Demi Bertahan Hidup di Sinjai
Di tengah kondisi itulah, puluhan warga berkumpul di depan sebuah rumah sederhana, mempersiapkan sesuatu yang tak pernah mereka harapkan terjadi.
Di atas tandu darurat dari sarung dan bambu, Ramlah (22) terbaring lemah. Wajahnya pucat, tubuhnya nyaris tak berdaya.
Beberapa hari setelah melahirkan, ia mengalami pendarahan hebat yang membuat kondisinya kian mengkhawatirkan.
Akses Jalan Rusak: Kendala Utama Ambulans Masuk Dusun Tonrong
Sebelumnya, seorang perawat di kampung sempat memberikan pertolongan pertama. Selama hampir dua jam, upaya itu berhasil menghentikan pendarahan.
Namun, tubuh Ramlah sudah terlalu lemah, ia bahkan sempat tak sadarkan diri akibat banyaknya darah yang hilang.
Gotong Royong Warga Menembus Jalan Lumpur Sepanjang 2 Kilometer
Keluarga tak punya banyak pilihan. Harapan satu-satunya adalah membawa Ramlah ke Puskesmas Tengalembang di Bontosalama, Kecamatan Sinjai Barat.
Tapi harapan itu tidak mudah dijangkau.
Akses jalan menuju rumah mereka masih berupa tanah.
Saat hujan turun, jalan berubah menjadi lumpur yang licin, membuat kendaraan, termasuk ambulans, tak mampu masuk.
Akhirnya, warga dan keluarga bergotong royong. Mereka mengangkat Ramlah dengan tandu seadanya, menyusuri jalan sepanjang kurang lebih dua kilometer.
Langkah demi langkah, mereka menembus jalan berlumpur, menjaga keseimbangan agar tandu tidak tergelincir.
“Iya, kami keluarga memutuskan untuk membawa ke puskesmas demi fasilitas kesehatan yang lebih memadai dan agar bisa langsung ditangani oleh perawat maupun dokter,” ujar Syamsul, anggota keluarga, dengan suara yang terdengar lelah.
Perjalanan itu bukan sekadar soal jarak, tapi juga pertaruhan waktu dan keselamatan. Setiap menit terasa berharga, setiap langkah penuh kekhawatiran.
“Karena jalan di dusun kami ini masih tanah dan licin, ambulans tidak bisa masuk. Jadi kalau ada warga sakit, harus ditandu dulu sampai ke jalan yang bisa dilalui kendaraan,” tambahnya.
Apa yang dialami Ramlah bukanlah kejadian pertama. Bagi warga Dusun Tonrong, kondisi ini sudah menjadi kenyataan sehari-hari.
Ketika sakit datang, perjuangan menuju fasilitas kesehatan menjadi ujian tersendiri.
Di balik tandu yang dipikul bersama, tersimpan harapan yang sederhana—akses jalan yang layak.
“Kami berharap pemerintah tidak hanya sebatas janji dan wacana. Kami butuh bukti nyata, seperti pengaspalan atau pengecoran jalan agar akses kesehatan lebih mudah,” harap Syamsul.
Sementara itu, di ujung perjalanan, harapan masih menyala—agar Ramlah selamat, dan suatu hari nanti, tak ada lagi warga yang harus mempertaruhkan nyawa di atas tandu karena jalan yang tak kunjung diperbaiki.
