Miris, Lansia Sebatang Kara di Gowa Bertahan Hidup di Rumah Reyot, Berbagi Ruang dengan Ayam

Lansia Sebatang Kara di Gowa.
Potret Daeng Gassing, seorang Lansia Sebatang Kara di Gowa, sedang duduk di dapur rumahnya yang reyot di Desa Bontomanai, Kecamatan Bungaya pada Senin (4/5/2026).

Intiliputan, Gowa — Potret kemiskinan ekstrem masih menghiasi sudut Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan.

Daeng Gassing (61), seorang Lansia Sebatang Kara di Gowa, terpaksa menjalani masa senjanya dalam kondisi yang sangat memprihatinkan.

Tinggal di Dusun Tanetea, Desa Bontomanai, Kecamatan Bungaya, ia harus berbagi ruang tidur dengan ayam peliharaan di dalam rumah kayu yang nyaris roboh.

Selama kurang lebih 20 tahun terakhir, ia hidup seorang diri di rumah sederhana berukuran sekitar 4×6 meter yang kondisinya jauh dari kata layak.

Dinding dan lantai rumahnya, yang sebagian terbuat dari anyaman bambu, tampak rapuh dan nyaris ambruk dimakan usia.

Di dalam ruang sempit itu, Daeng Gassing bahkan harus berbagi tempat tinggal dengan ayam-ayam peliharaan yang bertengger di bagian atas rumah setiap malam.

“Kalau malam, ayam di atas situ. Saya tidur di sini,” ucapnya lirih saat ditemui, Selasa (5/5/2026).

Rumah yang ditempatinya bukan hasil jerih payahnya sendiri. Bangunan tersebut didirikan oleh ponakannya yang berasal dari Maros.

Meski sederhana, tempat itulah yang ia pilih untuk bertahan hingga kini, meski berbagai kekurangan harus ia hadapi setiap hari.

Dulu, Daeng Gassing masih mampu bekerja sebagai buruh tani, mencangkul di sawah milik warga demi menyambung hidup.

Namun kini, kondisi fisiknya yang kian menurun membuatnya tak lagi mampu bekerja.

“Sudah tidak ada yang bisa saya kerja. Sekarang sudah tua, tidak kuat lagi,” tuturnya.

Untuk makan sehari-hari, ia bergantung pada kepedulian tetangga dan keluarga. Tak jarang, persediaan beras di rumahnya habis tanpa kepastian kapan akan kembali terisi.

Meski begitu, ia tetap menjaga harga diri dengan tidak meminta-minta.

“Kalau habis beras, saya pergi ke rumah saudara. Cuma bilang tidak memasak,” katanya sambil menahan haru.

Di tengah keterbatasan itu, fasilitas dasar pun tak ia miliki. Rumahnya tidak dilengkapi WC, memaksanya buang air besar di belakang rumah.

Kondisi ini tentu sangat tidak layak, terlebih bagi seorang lansia yang hidup sendiri.

“Iye, tidak ada WC. Katanya ada bantuan, tapi tidak pernah sampai ke sini,” ujarnya.

Ia mengaku pernah menerima bantuan, namun itu sudah lama berlalu. Terakhir, bantuan datang pada 2023 dari UPZ Pemprov Sulsel. Selebihnya, ia menjalani hidup tanpa dukungan rutin dari pemerintah.

Kondisi Daeng Gassing turut menjadi perhatian keluarganya, termasuk Darmadi Daeng Mile (40), cucu dari saudaranya.

Ia mengaku sering mengajak sang paman untuk tinggal bersama, namun selalu ditolak.

“Sering kami ajak tinggal di rumah, tapi dia tidak mau. Padahal di sini sendiri, rumahnya juga tidak terurus,” ungkap Darmadi.

Menurutnya, perhatian dari pemerintah masih sangat minim, terutama terkait kebutuhan dasar seperti fasilitas sanitasi dan bantuan sembako.

“Banyak bantuan WC, tapi dia tidak pernah dapat. Kalau buang air, ke belakang rumah saja,” tambahnya.

Sepanjang hidupnya, Daeng Gassing tidak pernah menikah dan tidak memiliki anak. Di usia senjanya, ia hanya bergantung pada kepedulian keluarga dan lingkungan sekitar.

Di balik keterbatasan yang ia jalani, Daeng Gassing tetap memilih bertahan. Di rumah reyot yang ia tempati, bersama ayam-ayam yang menjadi ‘teman’ di malam hari, ia menjalani sisa hidupnya dengan sederhana—dan dalam sunyi.