TAKALAR, INTILIPUTAN.ID – Niat seorang ayah untuk menjenguk putrinya yang mengikuti kegiatan perlombaan kepramukaan di Kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan, justru berujung ketegangan.
Beredar video orang tua salah satu siswa SMP Negeri 1 Takalar, bernama Daeng Sibali, mengaku diminta membayar Rp15 ribu saat hendak memasuki lokasi kegiatan di SMP Negeri 1 Galesong Utara, Jumat (23/10/2026).
Dalam video tersebut, orang tua siswi tersebut bersitegang dengan penjaga pintu masuk saat mempertanyakan biaya masuk sebesar Rp. 15 ribu itu asalnya dari mana, dan apakah diketahui oleh dinas pendidikan Kabupaten Takalar.
Namun pertanyaan itu justru dibalas dengan prilaku kasar panitia dengan nada yang tinggi.
Tak hanya keberatan dengan dugaan pungutan tersebut, Daeng Sibali juga mengaku sempat mengalami intimidasi dari sejumlah panitia.
Situasi bahkan dilaporkan memanas hingga nyaris berujung aksi main hakim sendiri.
Peristiwa itu bermula ketika Daeng Sibali mendatangi lokasi kegiatan sekitar pukul 15.15 WITA.
Kedatangannya semata-mata untuk membawakan makanan ringan dan minuman bagi putrinya yang tengah mengikuti perlombaan kepramukaan.
Namun, setibanya di halaman sekolah, ia mengaku dihentikan sejumlah orang yang disebut sebagai panitia kegiatan dan ditanya mengenai keperluannya.
“Pas masuk di halaman sekolah, saya dicegat panitia dan ditanyakan apa keperluan kemari, Pak,” ujar Daeng Sibali menceritakan pengalamannya.
Daeng Sibali mengaku telah menjelaskan maksud kedatangannya. Namun, menurut keterangannya, ia tetap tidak diperbolehkan masuk sebelum membayar uang sebesar Rp15 ribu.
Bahkan, ketika meminta alternatif untuk bertemu putrinya di luar area kegiatan atau sekadar menitipkan makanan dan minuman, ia mengaku tetap diminta membayar nominal yang sama.
Ia juga menyebut tidak menerima tiket maupun karcis resmi atas pungutan tersebut.
Persoalan yang awalnya berkaitan dengan akses masuk ke lokasi kegiatan itu kemudian memanas. Daeng Sibali mengaku sejumlah orang yang berada di lokasi tersulut emosi dan nyaris melakukan tindakan kekerasan terhadap dirinya.
Dalam rekaman video yang disebut diabadikan saat kejadian, terlihat situasi yang memanas. Ponsel milik Daeng Sibali juga dilaporkan nyaris dirampas oleh orang yang disebut sebagai oknum guru dan panitia.
Merasa keberatan atas dugaan pungutan tersebut, Daeng Sibali akhirnya mendatangi Polsek Galesong Utara untuk melaporkan kejadian yang dialaminya.
Ia menduga pungutan itu dilakukan tanpa penjelasan yang memadai mengenai dasar, tujuan, serta mekanisme penarikannya.
Namun, dugaan bahwa pungutan tersebut dilakukan tanpa sepengetahuan pihak sekolah maupun Dinas Pendidikan Kabupaten Takalar masih memerlukan konfirmasi lebih lanjut.
Dugaan pungutan terhadap orang tua siswa dalam kegiatan pendidikan tersebut perlu mendapat penjelasan terbuka dari pihak penyelenggara.
Jika memang terdapat biaya masuk bagi pengunjung, pihak sekolah maupun panitia perlu menjelaskan dasar kebijakan, tujuan penarikan, serta pihak yang menetapkannya.
Terlebih, kedatangan Daeng Sibali disebut hanya untuk menjenguk putrinya dan mengantarkan makanan serta minuman.
Hingga berita ini disusun, belum ada keterangan resmi dari pihak panitia maupun pengelola SMP Negeri 1 Galesong Utara mengenai dugaan pungutan Rp15 ribu, insiden yang dilaporkan terjadi di lokasi, serta mekanisme akses bagi orang tua siswa yang ingin menjenguk anaknya.
Konfirmasi dari pihak sekolah, panitia penyelenggara, dan Dinas Pendidikan Kabupaten Takalar masih diperlukan untuk memastikan duduk perkara peristiwa tersebut.
Sementara itu, laporan yang disebut telah disampaikan ke Polsek Galesong Utara diharapkan dapat menjadi dasar untuk mengklarifikasi kejadian dan memastikan apakah terdapat pelanggaran dalam pelaksanaan kegiatan tersebut.











